Musa bin Imran dan kembalinya Bani Israel ke Syam

Allah mengutus kepada mereka seorang Nabi yang bernama Musa, salah seorang Nabi Ulul Azmi yang berasal dari bani Israel. Allah selamatkan dia dari usaha pembantaian Firaun. Sebab, ibunya melemparkan dia setelah kelahirannya ke dalam sungai yang dia letakkan dalam kotak sesuai dengan perintah Allah. Musa sampai ke istana Fir’aun dan dijadikan sebagai anak angkat oleh Fir’aun tatkala istrinya yang bernama Asiya memaksanya. Fir’aun sendiri tidak diberi keturunan. Musa tumbuh dan berkembang di tengah istana Firaun.

Allah berfirman,

“Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai Nil.  Jangnlah  kamu khawatir dan janganlah pula bersedih hati  karena Kami sesungguhnya akan mengembali-kannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari para rasul. Maka, dipungutlah ia oleh salah seorang keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (al-Qashash: 7-8)

Musa semakin besar, dan sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia dia senang dan cenderung pada kaumnya. Saat itu terjadi pertarungan antara seorang Koptik (Qibthi) dengan seorang Bani Israel. Orang Israel itu meminta bantuan kepada Musa dan tanpa sengaja dia membunuh orang Koptik ter-sebut. Hal itu terjadi karena Musa dikenal sebagai sosok yang kuat fisiknya. Kejadian itu hampir saja berulang. Namun, Musa tahu bahwa peristiwa itu semakin menyebar isunya.

Allah berfirman,

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergesa-gesa seraya berkata, ‘HaiMusa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Oleh sebab itu, keluarlah kamu dari kota ini Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu,'” (al-Qashash: 20)

Musa segera melarikan diri ke negeri Madyan. Di sana dia membantu dua orang gadis yang sedang memberi minum kambing gembalaan mereka. Nabi Syu’aib menawarkan padanya untuk menikahi salah seorang anak wanitanya itu. Namun, dengan syarat jika Musa bekerja selama 8 hingga 10 tahun dengannya. Maka, terjadilah pernikahan itu.

Musa dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke Mesir. Pada saat berada di Sinai, Allah menurunkan wahyu padanya dan mengangkatnya sebagai Rasul yang diutus kepada Fir’aun dan kaumnya. Harun menjadi pembantu utamanya. Allah memberi dia beberapa mukjizat.

Musa menyeru Fir’aun untuk beriman kepada Allah. Namun, dia mendustakan serta mengingkarinya. Fir’aun mrngaku bahwa dirinya adalah Tuhan dan menyatakan bahwa mukjizat-mukjizat Musa, yakni tangan putih berkilat dan tongkat yang berubah menjadi ular, hanyalah sihir semata. kcmudian dia menentukan hari di mana dia mengumpulkan tukang sihir untuk mengalahkan Musa.

Allah berfirman,

“Sudahkah sampai kepadamu (Ya Muhammad) kisah Musa. tatkala Tuhannya memanggilnya dilembah suci ialah Lembah Thuwaa, ‘Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah kepada Fir’aun, adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri dari kesesatan.’Kamu akan kupimpin menuju jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya.’  Lalu, Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi, Fir’aun mendustakan dan mendurhakainya. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menentang Musa. Maka, dia mengumpulkan pembesar-pembesarnya. Lalu, berseru memanggil kaumnya seraya berkata, ‘Akulah Tuhanmu yang mahatinggi.’ Maka, Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia” (an-Naazi’aat: 15-25)

P’ada hari yang telah ditentukan, Musa berhasil mengalahkan para tukang sihir itu. Maka, tampaklah kini bahwa apa yang selama ini mereka lakukan adalah batil adanya. Mereka pun beriman kepada Allah. Karena keimanan mereka itu, Firaun menyalib dan membunuh mereka. Maka, bertambah memuncaklah siksaan dan kekejaman Fir’aun kepada Bani Israel.

Allah menyiksa Fir’aun dan kaumnya dengan kekeringan yang panjang. Namun, mereka tetap saja tidak mau sadar. Kemudian Allah turunkan siksaan lain kepada mereka.

Allah berfirman,

“Maka, Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas. Tetapi, mereka tetap menyombongkan din dan mereka adalah kaum yang berdosa.”(al-A’raaf: 133)

Kekejaman dan kezaliman Fir’aun semakin meningkat dan menjadi-jadi. Maka, Allah memerintahkan Musa untuk hijrah bersama kaumnya ke Syam. Mereka dibuntuti oleh Fir’aun dan tentaranya. Ketika mereka tiba di tepi laut, Musa segera memukulkan tongkatnya ke lautan dengan izin Allah. Maka, jadilah lautan itu jalan datar yang membuat Musa dan kaumnya gampang menyeberanginya.

Namun, ketika Fir’aun dan kaumnya berusaha untuk menyeberanginya, air menjadi pasang sehingga membuat Fir’aun dan tentaranya tenggelam di dalam lautan. Mereka pun binasa. Sedangkan, Musa dan orang-orang yang bersamanya telah sampai ke tepian pantai yang lain dengan selamat.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israel) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu. Kamu tak usah khawalir akan tersusul dan tidak usah takut akan tenggelam.’Maka, Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar Musa. Lalu, mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk. “(Thaahaa : 77-79)

Setelah itu orang-orang Yahudi meminta kepada Musa untuk menurunkan makanan. Lalu, Allah turunkan kepada mereka manna dan salwa. Musa melanjutkan perjalanan bersama mereka hingga sampai ke wiiayah pegunungan Sinai.

Lalu, Musa naik ke gunung itu selama empat puluh hari. Disana Allah berbicara dengannya dan menurunkan Kitab taurat serta wasiat-wasiat yang tertulis dan lempengan-lempengan yang terbuat dari batu. Kemudian Musa kembali pada kaumnya. Namun, ternyata dia dapatkan kaumnya telah menyembah anak sapi yang mereka bikin dari emas. Maka, marahlah Musa dan dia hancurkan berhala berbentuk anak sapi itu.

Kemudian Musa memerintahkan kepada mereka agar  saling bunuh sebagai siksaan atas perbuatan yang mereka lakukan. Ini Musa lakukan atas perintah Allah. Sebagaimana dia mengabarkan kepada mereka bahwa Allah telah menetapkan bahwa mereka akan berada dalam kesengsaraan dan kehinaan di gurun Sinai selama empat puluh tahun. Beberapa lama kemudian Harun meninggal lebih awal dan kemudian disusul Musa pada pcriode ini, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s