Nabi Ibrahim dan Kerajaan Sumeria di Irak

Beberapa kelompok keturunan Nuh berdiam di Irak yang dikenal dengan lembah Syan’ar. Posisi mereka kemudian menjadi semakin kuat. Kelompok manusia ini kemudian dikenal dengan sebutan Sumeria dengan pekerjaan utama sebagai petani. Mereka membangun tembok-tembok penghalang.

Selain mereka, bermukim pula di tempat itu sekelompok orang yang dikenal dengan Akkadian dan ibukota negeri mereka adalah Akkad. Sebagian dari mereka melakukan migrasi ke dataran tinggi bagian timur. Mereka membangun sebuah kota yang bernama Suza. Mereka ini adalah al-‘Aylamiyun.

Orang-orang Sumeria adalah kelompok terkuat di kawasan itu. Salah seorang raja yang paling terkenal dari mereka adalah Sarjun. Sedangkan, kota yang paling terkenal adalah Ur. Mereka adalah para penyembah berhala dan bintang-bintang. Mereka terus tenggelam dalam kegelapan dan kesesatan mereka. Maka, Allah mengutus Nabi-Nya yang bernama Ibrahim. Dia berasal dari kota Ur. Para sejarawan memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hidup antara tahun 1700 -2000 SM. (Lihat al-Mawsu’ah al-Arabiyyah al-Alamiyyah 1/59)

Nabi Ibrahim berasal dari keturunan Sam bin Nuh. Ibrahim adalah salah seorang Nabi Ulul Azmi. Allah meng-utusnya kepada kaumnya agar dia menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah. Ibrahim melakukan dialog terbuka dengan raja mereka, Namrud. Seorang raja congkak dan sombong serta mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. 2 : 258)

Nabi Ibrahim, menghancurkan berhala-berhala kaumnya saat mereka tidak ada di tempat. Kemudian dia membiarkan kapak tersandang di pundak berhala yang paling besar. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa sebenarnya berhala-berhala itu adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Allah berfirman,

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya” (QS. Al Anbiyaa’ : 58)

Maka, tampaklah bagi kaum itu betapa lemahnya berhala-berhala itu. Namun, mereka masih saja tenggelam dalam kesesatan dan kegelapan. Bahkan, lebih jauh dari itu mereka menetapkan untuk membakar Ibrahim. Allah berfirman,

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS. Al Anbiyaa’ : 68)

Setelah demikian panjang perjuangan yang dia lakukan, tidak ada seorang pun yang beriman pada ajakan dan seruan dakwahnya kecuali istrinya yang bernama Sarah dan sepupu-nya Luth. Maka, mereka pun hijrah ke negeri Syam.

Insya Allah secara lebih lengkap tentang Ibrahim ini akan kita kupas lebih lanjut pada bahasan tentang negeri Syam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s